Sabtu, 31 Desember 2011

2011 --> 2012


Pergantian tahun sebenernya sama aja kayak hari biasa. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita manfaatkan, salah satunya introspeksi diri setahun kebelakang udah apa aja yang kita lakukan.

Sudah bermanfaatkah kita untuk orang lain?
Sudah berhasilkah mimpi-mimpi kita sebelumnya setahun terakhir?

Orang optimis merelakan begadang di malam pergantian tahun untuk menanti tantangan di tahun berikutnya agar lebih baik lagi kedepannya.
Orang pesimis sama-sama rela begadang di malam pergantian tahun tapi hanya menyesali kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya tanpa usaha untuk memperbaikinya.



"All our dreams can come true, if we have the courage to pursue them." -Walt Disney

Selasa, 22 November 2011

PLANOLAPAN



Foto ini bakalan jadi salah satu kenangan terindah banget sama PLANOLAPAN

Senin, 03 Oktober 2011

Extraverted Sensing Feeling Judging (ESFJ)


Guardians of birthdays, holidays and celebrations, ESFJs are generous entertainers. They enjoy and joyfully observe traditions and are liberal in giving, especially where custom prescribes.
All else being equal, ESFJs enjoy being in charge. They see problems clearly and delegate easily, work hard and play with zest. ESFJs, as do most SJs, bear strong allegiance to rights of seniority. They willingly provide service (which embodies life's meaning) and expect the same from others.
ESFJs are easily wounded. And when wounded, their emotions will not be contained. They by nature "wear their hearts on their sleeves," often exuding warmth and bonhomie, but not infrequently boiling over with the vexation of their souls. Some ESFJs channel these vibrant emotions into moving dramatic performances on stage and screen.
Strong, contradictory forces consume the ESFJ. Their sense of right and wrong wrestles with an overwhelming rescuing, 'mothering' drive. This sometimes results in swift, immediate action taken upon a transgressor, followed by stern reprimand; ultimately, however, the prodigal is wrested from the gallows of their folly, just as the noose tightens and all hope is lost, by the very executioner!
An ESFJ at odds with self is a remarkable sight. When a decision must be made, especially one involving the risk of conflict (abhorrent to ESFJs), there ensues an in-house wrestling match between the aforementioned black-and-white Values and the Nemesis of Discord. The contender pits self against self, once firmly deciding with the Right, then switching to Prudence to forestall hostilities, countered by unswerving Values, ad exhaustium, winner take all.
As caretakers, ESFJs sense danger all around--germs within, the elements without, unscrupulous malefactors, insidious character flaws. The world is a dangerous place, not to be trusted. Not that the ESFJ is paranoid; 'hyper-vigilant' would be more precise. And thus they serve excellently as protectors, outstanding in fields such as medical care and elementary education.



Functional Analysis:

Extraverted Feeling

ESFJs live in their Extraverted Feeling functioning. Feeling, a rational (i.e., deciding) function, expresses opinions easily in the E world of objects and people. ESFJs have the ability to express warmth, rage, and a range of other emotions. Actions are encouraged or rebuked based on how they affect other people, especially people near and dear to the ESFJ. This type's vocal decisiveness predisposes many of its number to facility with administration and supervision.

Introverted Sensing

The secondary Sensing function aids and abets the dominant Fe in that sensate data is collected and at once compared with the inner forms or standards. Data on which decisions are made are thus focused and given a contrast which tends to be stronger and clearer than the original stimuli. The strengthening effect of Si on Fe may be responsible for this type's reputation for wearing their "hearts on their sleeves." At any rate, ESFJs reflect the "black and white" view of reality which is common to the SJ types.

Extraverted iNtuition

Intuition is tertiary--as the ESFJ matures, and as situations arise which call for suspension of criticism, Ne is allowed to play. Under the leadership of the Fe function, iNtuition allows for a loosening of the more rigid Si rights and wrongs; teasing and slapstick humor emerge. ESFJs are also capable of discerning patterns and philosophies, but such perceiving is subject to the weakness of the tertiary position, and the results often lack the variety and complexity of connections that more complex systems require.

Introverted Thinking

The inferior Ti function may rarely be expressed. In fact, ESFJs may take affront at the aloof, detached nature of dominant Ti types, or conversely, be drawn to them. Some ESFJs construct rationale which have the appearance of (Jungian) Thinking logic, but under scrutiny are in fact command performances of "Thinking in the service of Feeling," (i.e., Thinking-like conclusions which do not obey the tenets of impersonal logic; they rather construct scenarios from only those "hard, cold facts" which support the conclusion reached by the dominant Extraverted Feeling function. To wit:
You don't sew with a fork, so I see no reason to eat
with knitting needles.
-- Miss Piggy, on eating Chinese Food



Famous ESFJs:

U.S. Presidents:
William McKinley
William J. Clinton
Jack Benny
Desi Arnaz ("Ricky Ricardo")
Don Knotts ("Barney Fife")
John Connally (former Governor of Texas)
Terry Bradshaw, NFL quarterback
Sally Struthers (All in the Family)
Mary Tyler Moore
Dixie Carter (Designing Women)
Steve Spurrier, Heismann trophy winner, Univ. of S.C. football coach
Sally Field
Danny Glover, actor (Lethal Weapon movies, Predator 2 Margaret Butt
Nancy Kerrigan (U.S. olympic figureskater)
Elvis Stojko (Canadian olympic figureskater)



Fictional ESFJs:

Babbitt (Sinclair Lewis)
Hoss Cartwright (Bonanza)
Leonard "Bones" McCoy (Star Trek)
Monica (Friends)
Haleh (ER)
Mrs. Molly Weasley (Harry Potter)
Donald Duck
Rabbit, Winnie the Pooh

Senin, 04 April 2011

Quote Of The Day

"When you pray for others, GOD listens to you and blesses them.
When you're happy and feel blessed, remember someone has prayed for you too."
.

Jumat, 11 Februari 2011

Memulai untuk semangat bekarya lagi

Hasil Ta'lim kemaren (Kamis, 10 februari 2011) bersama KMMP ada quotes yang membangkitkan semangat gw saat itu dan hingga kini untuk bisa terus berkarya. Salah satunya memulai lagi untuk menulis di blog ini.

"Yang penting bukan berapa kali aku gagal, tetapi yang penting adalah berapa kali aku bangkit dari kegagalan" - Abraham Lincoln

Selasa, 28 Desember 2010

Quote Of The Day

“If we stop trying, that means we are no better than a coward”
- Bambang Pamungkas


“We are not playing for ourselves, but for the future generations”
- Ahmad Bustomi



NIKE INDONESIA

Reblog: Surat Untuk Firman

Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik uang membunuh nurani mereka. Orang tua, pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi seperti mereka?

Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.

Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan, menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan, membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi, semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu hendak digunakan untuk mencuci dosa politik. Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup bermain dengan gembira.

Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa, kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan dagangan para pecundang.

Berlarilah Firman, Okto, Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa.

Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan yang hendak direnggut lawan.

Tenanglah Markus, gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian lawan.

Gonzales dan Irfan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa yang miskin teladan.

Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa seorang tukang becak sama bahagianya dengan tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak butuh piala, bermainlah dengan gembira sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir, menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan menjadikan kalian teladan!



Sumber: http://itonesia.com/surat-untuk-firman/